Posted by : BlogBlogger Selasa, 04 Februari 2014

Foto: -Fearsome-

Beberapa waktu yang lalu, aku dan keluargaku pindah ke rumah baru, kami memutuskan pindah karena ingin mencoba suasana berbeda di pedesaan. sekian lama hidup di hiruk pikuk perkotaan telah cukup membosankan bagi kami. tempat tinggal baru kami sederhana, rumah dua lantai dengan halaman yang luas serta belum terlalu banyak tetangga menjadi alasan kami memilih daerah sejuk nan asri ini.

awalnya semua berjalan normal sampai suatu hari kurasakan kejanggalan di rumah ini, nyaris setiap malam aku selalu mendengar suara-suara aneh.
suara seperti bisikan tepat ditelingaku sebelum aku beranjak tidur.

aku mendengarnya hampir setiap hari saat malam hari, aku sudah menceritakannya pada orang tuaku, tapi mereka bilang aktifitas yang terlampau padat kadang membuat orang begitu kelelahan hingga berhalusinasi, termasuk untuk seorang gadis muda sepertiku.  mungkin mereka benar, jadi kuputuskan untuk tidak terlalu ambil pusing.
namun keadaan malah semakin bertambah buruk,suara itu terdengar makin keras dan seperti sebuah teriakan, kali ini aku yakin suara itu bukan sekedar halusinasi , aku tahu pasti apa yang kudengar!

desisan dan bisikan pelan itu bahkan dapat kudengar pada siang hari saat aku sedang sendirian dikamar - aku sangat ketakutan, semakin lama semakin terdengar lebih nyata, suara seperti seorang laki-laki dengan nada berat dan parau, aku yakin ini bukanlah khayalanku semata. aku hampir dapat menangkap kalimat yang dia bisikkan padaku, seseorang atau sesuatu jelas mengikutiku, aku hanya tak tahu apa.

malam ini kucoba beristirahat, sambil terus berharap agar tidurku nyenyak,  aku mulai menutup mataku sampai akhirnya...

'mereka kan membunuhmu, aku akan membunuhmu'

aku mendengarnya lagi, suara itu kini sangat jelas, aku mengedarkan pandanganku keseluruh sudut kamar  - mencari darimana asal suara tersebut.

''siapa kau? tunjukkan wujudmu!'' kataku menantang

'mereka akan membunuhmu, aku akan membunuhmu'

''DIAAM''
aku berteriak sembari menutup kedua telingaku.

suara itu tiba-tiba hilang ,
keadaan menjadi sunyi,
terlalu sunyi.
tapi anehnya aku tidak merasa lega.

mendadak aku merasa khawatir, ada yang tidak beres.
aku mencemaskan keluargaku. dengan ragu-ragu kulangkahkan kaki pelan menuju kamar adik kecilku yang letaknya tepat disebelah ruanganku. aku mengintip dari celah pintu, ia sedang tidur nyenyak.
aku berjingkat kesisi ranjangnya, takut jika tanpa sengaja membangunkannya, kubalikkan tubuh adikku hendak melihat keadaannya.

Ya Tuhan, pemandangan yang begitu horror tersaji tepat di depan mataku, bibir mungil adikku robek sampai ketelinga seperti disayat sebilah pisau tajam.
kedua bola matanya hilang seperti dicungkil paksa, menyisakan dua rongga gelap tanpa kelopak mata yang telah diiris dan mengucurkan darah segar.
kudorong tubuh adikku yang telah tak bernyawa menjauh dariku,
aku mundur perlahan ke pintu, seluruh isi perut seakan ingin melonjak keluar.
aku terduduk bersandar kedinding  -  menangis sejadi-jadinya. masih tak percaya dengan apa yang kulihat saat ini.

'bagaimana sekarang ? aku sudah memperingatkanmu'

suara itu datang lagi, aku begitu takut, aku berlari keluar dari kamar adikku dan menuju lantai bawah mencari kedua orang tuaku.
kutemukan mereka duduk di meja makan, aku menutup mulutku menahan mual. 
tubuh ayahku duduk bersandar dikursi dengan kepala mendongak keatas, jakunnya mencuat keluar dari tenggorokannya, sebuah pisau bersarang di jantungnya. matanya melotot mengisyaratkan betapa kematiannya begitu menyiksa.

''oh tidak.....jangan ibu juga...''

air mataku mengalir deras melihat kondisi ibu.
kepala ibu tertancap sebilah pisau dimeja makan, puluhan tusukan merobek punggungnya, aku berusaha mengangkat tubuh ibuku namun pisau itu terlalu kuat menancap di meja menahan kepala ibu. aku menangis tidak percaya dengan apa yang kualami. jika ini mimpi, ini mimpi yang terlalu buruk.

tiba-tiba kudengar suara langkah berat dari lantai atas.

'kau bisa lari, tapi kau tak bisa sembunyi dariku'

jantungku serasa berhenti berdetak mendengarnya, makhluk itu akhirnya muncul !.
aku berlari sekuat tenaga keluar dari rumah, aku berteriak meminta bantuan, entah kenapa tak ada seorangpun yang datang menghampiriku, tak ada orang lain disana selain aku.
aku berlari menuju rumah tetangga terdekat, kudobrak pintunya tanpa pikir panjang.

apa yang kulihat sungguh berbeda dari apa yang kuharapkan, 
seorang nenek terbaring di depan pintu dengan kondisi mengenaskan, sebuah kapak besar bertengger di perutnya, ia memeluk seekor kucing mati yang tulang pungungnya seperti dipelintir.
''oh tuhan..tidak lagi''

dengan hati-hati kujaga langkahku dari mayat wanita itu. kukunci pintu rumah tetanggaku dan mencari alat untuk menghubungi siapapun yang dapat memberikan pertolongan.
cukup lama aku mencari namun tak kutemukan sebuah telepon rumah atau apapun.
aku teringat ponselku berada dikamar. maka kuintip keadaan diluar lewat jendela, jalanan sepi dan lengang diluar - tak ada suara maupun tanda-tanda dari makhluk tadi.
dengan sangat hati-hati kubuka pintu dan berjalan menuju rumahku.
kulihat jasad ibu dan ayah masih diposisi semula.

aku memalingkan wajah dan bergegas menuju lantai atas. aku melewati kamar adikku, sekilas terlihat mayatnya masih tergolek lemah ditepi ranjang.

langkahku terhenti pada sebuah cermin besar dikamarku, aku menoleh melihat pantulanku sendiri, namun ada yang aneh disana.
aku melihat diriku membawa sebilah pisau yang masih berlumuran darah dengan seringai penuh kepuasan.
ia berkata padaku :

''kita melakukannya dengan baik''

-kevin
Beberapa waktu yang lalu, aku dan keluargaku pindah ke rumah baru, kami memutuskan pindah karena ingin mencoba suasana berbeda di pedesaan. sekian lama hidup di hiruk pikuk perkotaan telah cukup membosankan bagi kami. tempat tinggal baru kami sederhana, rumah dua lantai dengan halaman yang luas serta belum terlalu banyak tetangga menjadi alasan kami memilih daerah sejuk nan asri ini.

awalnya semua berjalan normal sampai suatu hari kurasakan kejanggalan di rumah ini, nyaris setiap malam aku selalu mendengar suara-suara aneh.
suara seperti bisikan tepat ditelingaku sebelum aku beranjak tidur.

aku mendengarnya hampir setiap hari saat malam hari, aku sudah menceritakannya pada orang tuaku, tapi mereka bilang aktifitas yang terlampau padat kadang membuat orang begitu kelelahan hingga berhalusinasi, termasuk untuk seorang gadis muda sepertiku. mungkin mereka benar, jadi kuputuskan untuk tidak terlalu ambil pusing.
namun keadaan malah semakin bertambah buruk,suara itu terdengar makin keras dan seperti sebuah teriakan, kali ini aku yakin suara itu bukan sekedar halusinasi , aku tahu pasti apa yang kudengar!

desisan dan bisikan pelan itu bahkan dapat kudengar pada siang hari saat aku sedang sendirian dikamar - aku sangat ketakutan, semakin lama semakin terdengar lebih nyata, suara seperti seorang laki-laki dengan nada berat dan parau, aku yakin ini bukanlah khayalanku semata. aku hampir dapat menangkap kalimat yang dia bisikkan padaku, seseorang atau sesuatu jelas mengikutiku, aku hanya tak tahu apa.

malam ini kucoba beristirahat, sambil terus berharap agar tidurku nyenyak, aku mulai menutup mataku sampai akhirnya...

'mereka kan membunuhmu, aku akan membunuhmu'

aku mendengarnya lagi, suara itu kini sangat jelas, aku mengedarkan pandanganku keseluruh sudut kamar - mencari darimana asal suara tersebut.

''siapa kau? tunjukkan wujudmu!'' kataku menantang

'mereka akan membunuhmu, aku akan membunuhmu'

''DIAAM''
aku berteriak sembari menutup kedua telingaku.

suara itu tiba-tiba hilang ,
keadaan menjadi sunyi,
terlalu sunyi.
tapi anehnya aku tidak merasa lega.

mendadak aku merasa khawatir, ada yang tidak beres.
aku mencemaskan keluargaku. dengan ragu-ragu kulangkahkan kaki pelan menuju kamar adik kecilku yang letaknya tepat disebelah ruanganku. aku mengintip dari celah pintu, ia sedang tidur nyenyak.
aku berjingkat kesisi ranjangnya, takut jika tanpa sengaja membangunkannya, kubalikkan tubuh adikku hendak melihat keadaannya.

Ya Tuhan, pemandangan yang begitu horror tersaji tepat di depan mataku, bibir mungil adikku robek sampai ketelinga seperti disayat sebilah pisau tajam.
kedua bola matanya hilang seperti dicungkil paksa, menyisakan dua rongga gelap tanpa kelopak mata yang telah diiris dan mengucurkan darah segar.
kudorong tubuh adikku yang telah tak bernyawa menjauh dariku,
aku mundur perlahan ke pintu, seluruh isi perut seakan ingin melonjak keluar.
aku terduduk bersandar kedinding - menangis sejadi-jadinya. masih tak percaya dengan apa yang kulihat saat ini.

'bagaimana sekarang ? aku sudah memperingatkanmu'

suara itu datang lagi, aku begitu takut, aku berlari keluar dari kamar adikku dan menuju lantai bawah mencari kedua orang tuaku.
kutemukan mereka duduk di meja makan, aku menutup mulutku menahan mual.
tubuh ayahku duduk bersandar dikursi dengan kepala mendongak keatas, jakunnya mencuat keluar dari tenggorokannya, sebuah pisau bersarang di jantungnya. matanya melotot mengisyaratkan betapa kematiannya begitu menyiksa.

''oh tidak.....jangan ibu juga...''

air mataku mengalir deras melihat kondisi ibu.
kepala ibu tertancap sebilah pisau dimeja makan, puluhan tusukan merobek punggungnya, aku berusaha mengangkat tubuh ibuku namun pisau itu terlalu kuat menancap di meja menahan kepala ibu. aku menangis tidak percaya dengan apa yang kualami. jika ini mimpi, ini mimpi yang terlalu buruk.

tiba-tiba kudengar suara langkah berat dari lantai atas.

'kau bisa lari, tapi kau tak bisa sembunyi dariku'

jantungku serasa berhenti berdetak mendengarnya, makhluk itu akhirnya muncul !.
aku berlari sekuat tenaga keluar dari rumah, aku berteriak meminta bantuan, entah kenapa tak ada seorangpun yang datang menghampiriku, tak ada orang lain disana selain aku.
aku berlari menuju rumah tetangga terdekat, kudobrak pintunya tanpa pikir panjang.

apa yang kulihat sungguh berbeda dari apa yang kuharapkan,
seorang nenek terbaring di depan pintu dengan kondisi mengenaskan, sebuah kapak besar bertengger di perutnya, ia memeluk seekor kucing mati yang tulang pungungnya seperti dipelintir.
''oh tuhan..tidak lagi''

dengan hati-hati kujaga langkahku dari mayat wanita itu. kukunci pintu rumah tetanggaku dan mencari alat untuk menghubungi siapapun yang dapat memberikan pertolongan.
cukup lama aku mencari namun tak kutemukan sebuah telepon rumah atau apapun.
aku teringat ponselku berada dikamar. maka kuintip keadaan diluar lewat jendela, jalanan sepi dan lengang diluar - tak ada suara maupun tanda-tanda dari makhluk tadi.
dengan sangat hati-hati kubuka pintu dan berjalan menuju rumahku.
kulihat jasad ibu dan ayah masih diposisi semula.

aku memalingkan wajah dan bergegas menuju lantai atas. aku melewati kamar adikku, sekilas terlihat mayatnya masih tergolek lemah ditepi ranjang.

langkahku terhenti pada sebuah cermin besar dikamarku, aku menoleh melihat pantulanku sendiri, namun ada yang aneh disana.
aku melihat diriku membawa sebilah pisau yang masih berlumuran darah dengan seringai penuh kepuasan.
ia berkata padaku :

''kita melakukannya dengan baik''

-kevin

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

Arsip Blog

- Copyright © AnyThing We Share -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -